Menjadi Mindful Parent dengan Mengenali Penyebab Rengekan Anak

                                                                            Pic by Google

Siapa di sini yang suka gereget mendengar rengekan anak? Hmm kalau ditanya seperti itu mungkin saya salah satunya. Terkadang menjalani keseharian mengurus rumah dan anak-anak menjadi momen yang membahagiakan. Alih-alih menjadikannya beban, saya berusaha menikmatinya. Namun bukan tidak pernah, di tengah-tengah kegiatan sehari-hari seringkali saya merasa jengah dengan rengekan dan rajukan anak-anak.

Buat saya yang punya OCPD, membereskan rumah bisa menjadi kegiatan mengasyikan di tengah-tengah kewajiban mengurus anak. Saya anggap itu sebagai healing, namun kalau sudah diuji dengan rengekan dan teriakan duh seperti ambruk sejuta mood yang sudah dibangun. Tapi mungkin itu ujian setiap ibu-ibu, apalagi yang punya anak lebih dari satu atau punya anak kembar seperti saya ini.

Walau jengkel dengan rengekan, sejatinya saya sadar bahwa itu salah satu bentuk komunikasi anak-anak. Mengingat anak saya masih berumur 2 tahun 3 bulan, rasanya memang wajar jika mereka belum bisa berkomunikasi secara efektif. Mungkin mereka bingung untuk mengomunikasikan keinginannya secara jelas, karena ya memang belum bisa melafalkannya atau belum mengerti cara menyampaikannya.

Maka, memang kitalah sebagai orang tua yang harus mengerti dan mendedikasikan diri untuk lebih perhatian dan pengertian terhadap anak. Bisa jadi ada hal –hal yang kurang kita perhatikan atau bisa jadi tangki cinta anak belum terisi penuh. Menurut Sarah Ockwell Smith dalam bukunya Gentle Discipline ada beberapa hal yang melatarbelakangi anak yang sering merengek atau merajuk, diantaranya:

1.   Kurangnya Kendali

Anak seringkali merasa bahwa ia tidak memiliki otoritas atas dirinya sendiri bahkan juga lingkungan. Orang dewasa hampir mengatur seluruh kebutuhan mereka mulai dari waktu mereka, pakaian apa yang akan mereka kenakan, hingga makanan apa yang akan mereka makan. Hal itu terkadang membuat mereka merasa tidak berdaya untuk mengendalikan situasi sehingga merengek menjadi hal yang lazim mereka lakukan. Karenanya, memberi anak ruang untuk berkontribusi yang disesuaikan dengan usia dan tingkat keamanan merupakan hal yang baik dilakukan. Misal saja bertanya tentang makanan apa yang ingin mereka makan atau membiarkan mereka memilih sendiri pakaian yang mereka inginkan, bisa menjadi jalan tengah agar anak merasa dilibatkan dan punya kendali atas dirinya.

2.      Keterampilan Komunikasi yang Kurang Memadai

Pada rentang usia anak yang relatif lebih muda, memang hambatan komunikasi tidak bisa dilupakan. Keterampilan komunikasi yang masih sangat minim membuat mereka kesulitan dalam mengutarakan emosinya atau bahkan kebutuhan pribadinya. Itulah kenapa pada kesempatan-kesempatan yang tak bisa terduga orang tua wajib memiliki tingkat pengertian yang tinggi terhadap kondisi anak mereka, termasuk jika anak merengek karena kesulitan mengutarakan perasaannya. Terlebih bila kita sebagai orang tua masih kurang memahami bahasa anak usia dini.

3.      Kurangnya Pengaturan Emosi

Pada dasarnya anak-anak pada usia berapapun memang masih kesulitan dalam mengatur perilaku mereka. Hal itu dikarenakan korteks frontal otak yang bertanggung jawab untuk membantu anak membentuk percakapan rasional belum berkembang dengan sempurna. Sehingga rengekan bisa menjadi salah satu tampilan dramatis yang mereka munculkan, yang seringkali berujung pada tantrum. Maka menjadi mindful parent merupakan solusi yang seharusnya.

4.      Merasa Kewalahan

Banyaknya input sensoris yang diterima anak-anak bisa menyebabkan anak berakhir dengan rengekan. Misalnya mereka baru saja mengenal dan mengunjungi tempat baru di mana tak ada satu orang pun yang ia kenal kecuali orang tuanya, terlebih banyak suara bising yang jarang ia dengar di rumah. Ketidaknyaman itu muncul pada diri anak sehingga menyebabkan ia merengek karena tak bisa mengendalikan situasi yang mereka hadapi.

5.      Terlalu Lelah

Merasa lelah memang akan berujung pada adanya kemunduran perilaku. Jika anak sudah menghabiskan waktu sepanjang hari untuk bermain atau berlari, maka kemungkinan anak kelelahan tak dapat dipungkiri. Maka, lelah bisa menjadi salah satu alasan anak merengek. Karenanya, cukup istirahat menjadi kunci agar anak tak kelelahan.

6.      Merasa Tidak Didengarkan

Kadang kita sering kali mengabaikan rengekan anak, padahal hal  itu justru akan memicu kembali rengekan yang lebih dahsyat saat itu juga atau bahkan di kemudian hari. Dengan mengabaikan rengekan anak maka kita sama saja seperti tidak mendengarkan perasaan mereka. Sedangkan untuk terkoneksi dengan anak, kita orang tua wajib memahami perasaan anak bahkan ketika ia mengomunikasikannya dengan sebuah rengekan.

Ketika saya membaca hal-hal di atas pertama kalinya, saya langsung berpikir dan tersadar bahwa selama ini begitu saya telah mengeluh atas apa yang sesungguhnya harus saya pertanggungjawabkan. Sama halnya dengan saya, anak-anak pun sebenarnya merasa kewalahan dengan situasi yang mereka hadapi di rumah. Tapi, tak ada pula yang harus disesali, dengan mengetahuinya saya justru jadi yakin bahwa kedepannya saya tahu apa yang harus saya lakukan.

Memprioritaskan rengekan anak memang terdengar klise, tapi memang itulah yang harus dilakukan. Anak ingin didengarkan, anak ingin perasaannya digandeng dan diberi ruang. Agar kelak selanjutnya anak tahu bahwa orang tuanya mengerti dirinya, orang tuanya bisa diajak berkomunikasi walau dengan kata-kata minim yang mereka kuasai. Anak-anak hanyalah anak-anak. Yang bahkan mereka tidak paham apa yang mereka sedang lakukan atau respon apa yang menguasai dirinya. Karenanya, hanya kitalah orang tuanya yang bisa membawa mereka pada ruang-ruang pengertian yang luas, menghindari diri dari kemarahan hanya karena sebuah rengekan.

Komentar

  1. Ya terlalu banyak sensories juga tidak bagus, membuat anak jadi rentan tantrum. Anak merengek itu juga alami karena bentuk Komunikasi anak pada orang dewasa, jadi itu udah fitrahnya, semangaat mom... Masa ini cuma sebentar kok

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mba bismillah pasti bisa dilewati ya insyaAllah :)

      Hapus
  2. Aku belum nikah si mba, tapi mulai belajar untuk mengatur emosi saat mendengar anak merengek. Kadang perlu diam untuk mengambil napas, biar nggak meledak emosinya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener mba, penting bgt inhale exhale dan istigfar ya supaya tetep kuat hihi

      Hapus
  3. Buat pelajaran nanti bila sudah menikah Dan punya anak. Anak adalah guru yang luar biasa. Dengan ya ibu-ibu belajar ilmu kehidupan

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul mba, insyaAllah orangtua dan anak sama-sama belajar terus :)

      Hapus
  4. Belajar ngatur emosi lewat ponakan😃

    BalasHapus

Posting Komentar

Popular Posts

Ketika Anak Kembar Saling Berebut, Apa yang Harus Dilakukan?

Di Instagram

Perubahan