TTTS (Twin to twin Transfusion Syndrom) Penyebab Kelahiran Prematur Bayi Kembarku




Istilah TTTS memang belum lama saya kenali, bahkan saat kehamilan saya di bawah 12 minggu, istilah tersebut masih juga belum saya ketahui. Hal tersebut karena saya baru mengetahui bahwa saya hamil kembar saat usia kandungan 12 minggu. Memang, alih-alih bersedih, saat itu saya dan suami justru sangat senang sekali mengetahui kenyataan bahwa di dalam perut saya ini ada dua detak jantung yang terdengar.

Namun, berbeda dengan saya dan suami, dokter kandungan saya saat itu justru terlihat tidak ikut senang. Ia justru khawatir dengan kehamilan kembar ini, ia berkata untuk tetap tenang dan mengetahui secara detail tentang beberapa risiko yang bisa terjadi pada kehamilan kembar. Memahami maksud beliau, sontak saya dan suami ikut terdiam dan justru merasa harus mengetahui lebih dalam mengenai kehamilan kembar ini. Beliau menjelaskan secara detail bahwa kehamilan kembar memiliki risiko prematuritas yang cukup tinggi.

Bukan hanya itu, kemungkinan-kemungkinan lain bisa saja terjadi seperti preeklamsia, plasenta previa termasuk juga TTTS (Twin to twin Transfusion Syndrom). Saat itu yang saya pikirkan adalah bagaimana saya bisa menjaga semaksimal mungkin kehamilan yang sudah ditakdirkan ini. Walau banyak muncul kekhawatiran, namun hal itu masih bisa saya release dengan baik. Saat itu salah satu caranya adalah dengan mencari ilmu terkait faktor-faktor risiko yang mungkin saja terjadi.

Satu per satu saya coba pahami dan kenali hal  apa yang mungkin saya rasakan selama kehamilan. Namun, Alhamdulillah tidak banyak yang mengusik saya kecuali rasa mual yang masih terus terasa hingga pada trimester akhir. Saya masih tetap bisa bekerja setiap hari, tidur nyenyak dan tak ada keluhan yang berarti.

Walau tak ada keluhan, kontrol kehamilan tetap menjadi agenda rutin saya dan suami setiap bulannya. Sesekali juga saya mendatangi bidan untuk cek kehamilan saat tiba-tiba kecemasan saya sedang tinggi. Hanya untuk menenangkan hati saja supaya mood ibu hamil tetap terjaga. Hingga kehamilan saya di minggu ke 24 saya masih mengunjungi dokter spesialis kandungan biasa, sampai saatnya di minggu ke 25 dokter menyarankan saya untuk mengunjungi salah satu dokter kandungan subspesialis fetomaternal.

Dokter kandungan subspesialis fetomaternal merupakan seorang dokter spesialis kebidanan dan kandungan yang mendalami ilmu tentang penyakit dan komplikasi pada ibu hamil dan janin. Dokter spesialis ini memiliki kompetensi lebih untuk mendiagnosis kelainan pada janin dan ibu hamil serta dapat melakukan pemeriksaan, deteksi dini, dan penanganan jika janin mengalami kelainan genetik, gangguan pembentukan organ atau cacat bawaan lahir (kelainan kongenital), meninggal dalam kandungan, atau lahir prematur. (Alodokter.com)

Akhirnya semenjak usia kehamilan 25 minggu saya harus datang untuk kontrol kehamilan setiap satu minggu sekali. Bergantian antara dokter spesialis kandungan biasa dan dokter kandungan subspesialis fetomaternal. Walau melelahkan namun harus dijalani. Biasanya saya kontrol di malam hari ketika pulang kantor. Yang paling melelahkan adalah menunggu dokter kandungan fetomaternal yang antriannya bejibun, saya bisa menunggu dokter sampai jam 12 malam. Tapi demi anak apapun pasti akan saya lalui, itu dahulu yang saya pikirkan.

Bukan tanpa alasan, pada kehamilan ke 24 minggu dokter kandungan saya melihat ada ketidaksesuaian berat badan antara bayi satu dengan bayi lainnya. Saat itu toleransi perbedaan berat badan sudah menuju ke mencurigakan (mungkin nanti saya cerita detail tentang perbedaan berat badan di postingan selanjutnya ya). Walau gerakan bayi normal dan aktif namun dokter khawatir mengenai asupan makanan melalui plasenta dan ari-ari pada bayi satu (saat itu dinamakan seperti itu).

Hingga pemeriksaan minggu selanjutnya, perkembangan kenaikan berat badan bayi terus dipantau. Bahkan mulai minggu ke 28 saya disarankan untuk bukan lagi meminum susu ibu hamil biasanya tapi sudah diharuskan untuk meminum susu penambah massa otot yang memiliki kandungan protein lebih banyak :D. Saya juga sudah mulai melakukan proses penyuntikan untuk pematangan paru, kalau tidak salah di minggu ke 28. Hal tersebut dilakukan karena dokter khawatir sewaktu-waktu saya bisa saja melahirkan prematur.

Walau keyakinan saya sangat kuat untuk terus berjuang dan bertahan hingga cukup bulan, namun akhirnya di minggu ke 33 lebih 5 hari saya terpaksa harus melahirkan bayi saya secara prematur melalui operasi caesar. Kalau orang lain mungkin khawatir tentang proses operasinya, saya justru khawatir dengan anak-anak saya yang belum seharusnya lahir ke dunia. Belum lagi proses pencarian rumah sakit dan ruang NICU yang sulit dan rumit  membuat saya agak sedikit kalut saat berada di ruang IGD. Namun, saat itu saya berpikir untuk tawakal saja.

Hari itu 8 Oktober 2018, hari pertama saya cuti melahirkan. Pada hari itu juga merupakan hari dimana saya harus mengunjungi dokter fetomaternal di sebuah rumah sakit negeri di wilayah Jakarta Timur. Tidak ada prasangka apapun, saya datang di antar suami namun suami tidak  bisa menemani karena harus bekerja. Saya mengantri dan menunggu seperti biasa hingga giliran saya masuk ke ruang dokter ditemani oleh tante saya yang tiba-tiba datang ingin menemani. Seperti biasa dokter memeriksa dengan alat 4D hingga terlihat di layar bayi-bayi mungil saya. Namun saat dokter memeriksa tali pusat salah satu bayi seperti ada yang berbeda. Dokter berulang kali mengecek dan suster berulang kali menambahkan gel USG di perut saya, tak lama dokter langsung menyarankan saya ke IGD kehamilan. Tanpa berkata panjang lebar dokter menjelaskan bahwa adanya kelainan pada ari-ari salah satu bayi sehingga asupan makanan bayi satu dengan bayi lainya tidak seimbang.

Tanpa berlama-lama saya keluar ruang dokter dan menelepon suami saya untuk bisa secepatnya datang ke rumah sakit. Dan semenjak itulah proses demi proses saya lalui sebagai pasien IGD kehamilan selama 5 hari berturut-turut, sebelum akhirnya pada tanggal 12 Oktober 2018 saya melahirkan bayi kembar prematur di rumah sakit yang berbeda.

Banyak kekhawatiran, banyak rintangan dan cobaan yang diujikan kepada saya dalam menjalani kehamilan ini, namun rasanya terbayar lunas ketika mendengar dua tangisan bayi-bayi yang walau berberat badan kecil namun suaranya melengking keras menggegerkan ruang operasi. Walau juga tak sempat melihat dan skin to skin secara langsung namun saya brsyukur masih diberi kesempatan melahirkan mereka dalam keadaan selamat.

Bersyukur walau tak sempat IMD dan baru bisa bertemu bayi-bayi saya dua hari kemudian tapi Allah Swt. menjaga mereka dalam naungan hangatnya inkubator. Saya bersyukur dan berterima kasih masih bisa menggenggam tangan-tangan kecil mereka dari luar inkubator. Mereka anak-anak yang kuat dan penuh kesabaran, lebih kuat dan sabar dari kedua orang tuanya. Mereka My NICU Survivor!

 


Komentar

  1. Wah Aku pengen Baca kelanjutan sharing pengalaman ttts ini Mba Cahya, aku baru tau tentang ttts ini dari kehamilan artis Ono, ternyata Mba juga mengalami... Alhamdulillah bayinya sehat dan ginuk-ginuk yaa MasyaAllah

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mba insyaAllah masih ada yang ingin aku ceritakan hihi Alhamdulillah mba :)

      Hapus
  2. aku pengen punya anak kembar hehe
    ditunggu kisah selanjutnya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin semoga dikabul hihi makasih sudah mampir mba :)

      Hapus
  3. Masya Allah, pernjuangannya mba. Alhamdulillah bayi dan ibunya sehat walaupun mungkin kelahirannya tidak sesuai rencana awal ya mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mba Alhamdulillah masih diberi kesempatan untuk membesarkan mereka hihi selalu ada hikmah dibalik kisah mba :)

      Hapus
  4. Alhamdulillah perjuangan mba dan suami diberkahi bayi2 yang masyaAllah lucu.. Sehat selalu mba.. ditunggu cerita perjuangan lainnya selama kehamilan si kembar. Tetangga hamil kembar 3, waktu hami besar kalau duduk di lantai, perutnya nyentuh lantai.. selalu merasa cerita perjuangan seorang ibu itu super duper luar biasa

    BalasHapus
    Balasan
    1. MasyaAllah kembar 3 kebayang deh hihi tapi ya itu bagi Ibu gak ada yang gak mungkin ya mba untuk anak-anak :)

      Hapus
  5. masyaaAllah tabarakallah
    semoga sehat2 selalu semuanya

    BalasHapus
  6. Semoga si kembar sehat selalu ya mba..

    BalasHapus
  7. MashaAllah Tabarakallah Mba, anak2nya gemuy2.. Semoga selalu sehat. Aamii.

    BalasHapus
  8. MasyaAllah perjuangan ny melahirkan anak kembar yaa mba.
    Saya jadi tau banyak hal

    BalasHapus

Posting Komentar

Popular Posts

Ketika Anak Kembar Saling Berebut, Apa yang Harus Dilakukan?

Di Instagram

Perubahan