Self Love! Transformasi Kekhawatiran Menjadi Rasa Percaya
Semenjak menjadi Ibu,
Rasa-rasanya tingkat kecemasan semakin meningkat. Apalagi dihadapkan dengan dua bayi kembar prematur dalam keadaan sebagai Ibu muda yang belum memiliki pengalaman. Secara jelas dan permanen hal itu pada akhirnya menjadikan keseharian saya penuh kekhawatiran.
Hari demi hari yang saya lalui terkadang membuat saya terengah-engah. Harus bergerak dan berpikir dari satu hal ke hal yang lainnya secara cepat dan spontan. Tidak seperti Ibu melahirkan pada umumnya, tiga hari pasca persalinan caesar dan dibolehkan pulang saya sampai di depan pintu rumah tanpa membawa kedua buah hati. Arfa dan Arfi masih harus menginap di NICU untuk proses pemantauan dan pemulihan.
Selama dua minggu saya harus bolak-balik ke rumah sakit sehari dua kali untuk menyusui dan KMC (kangoroo mother care) agar berat badan mereka lekas naik. Proses pemulihan kesehatan Arfa dan Arfi tidak hanya berhenti setelah pulang ke rumah. Mereka harus tetap melakukan kontrol mingguan, cek OAE (oto accoustic emission), ROP (retinopathy of prematurity) dan lain sebagainya.
Seluruh proses pemulihan kesehatan terus berlanjut hingga Arfa & Arfi besar. Pengecekan jantung, pengecekan urologi, alergi, pemantauan gizi, cek mata dan lain sebagainya menjadi perhatian utama bagi saya. Sampai tanpa disadari saya di diagnosa anxiety disorder. Kekhawatiran berlebihan ini menjadi jawaban atas segala proses yang telah saya lampaui untuk anak-anak saya. Saya tidak menyesali semuanya, namun ada hal yang harus saya perbaiki. Ada hal yang bukan lagi menyoal tentang kesehatan anak-anak saja. Tapi lebih daripada itu saya harus mulai sadar untuk mencintai diri saya sendiri.
Anggaplah ini sebuah kelalaian, saya melupakan diri saya sendiri demi anak-anak saya. Setelah dua tahun kemudian saya baru sadar bahwa saya tidak menjalankan amanah yang sebenar-benarnya pada diri saya sendiri. Saya telah menjadikan diri sendiri sebagai opsi terakhir dalam segala hal. Saya kemudian baru ingat bahwa suami saya pernah beberapa kali mencarikan saya salon dan spa namun saya menolak. Suami beberapa kali mengajak makan di restoran premium namun lagi-lagi saya menolak. Bahkan, ketika saya memperlihatkan baju rumah saya yang sudah sobek, beliaulah yang getol mencarikan penggantinya di online shop, namun lagi-lagi saya bilang “ah gausah nanti aja”.
Saat itu saya kalah, kalah oleh sebuah kecemasan yang berlebihan. Hingga lupa keadaan dan kebiasaan. Lupa bahwa ada hal lain selain anak yang juga harus diselesaikan perkaranya. Lupa bahwa kesehatan diri sendiri juga penting dalam pengasuhan. Lupa bahwa suami sebegitu pedulinya terhadap diri saya, namun saya malah masih saja kalah dengan pemikiran berlebihan yang saya punya.
Sudah 4
bulan kebelakang ini, saya kenali lagi diri saya sendiri. Menggali lagi apa
yang saya butuhkan dan apa yang harus dipenuhi. Mengenal lagi kebiasaan dan
rutinitas sebagai seorang perempuan. Menata kembali rambut yang sempat
berantakan sekadarnya. Membuang daster-daster butut yang sudah usang dimakan
kekhawatiran. Menambal kembali dinding bolong dalam diri dan hati untuk
mentranformasikan kekhawatiran menjadi sebuah rasa percaya. Percaya bahwa semua
keadaan ini milik Allah, semua yang terjadi telah ditetapkan muasalnya, dan
percaya bahwa dengan mencintai diri sendiri berarti juga saya mencintai suami
dan anak-anak saya dengan cara yang benar dan sadar.

Komentar
Posting Komentar