Membuka Rahasia diri Bermula Ikut Bengkel Diri
4 Bulan sudah berproses di Bengkel Diri. Memulai dari level 1 hingga kini sudah berada di penghujung level 2. Rasanya seperti benar-benar sekolah lagi, memupuk pengetahuan lagi seperti layaknya dahulu di perkuliahan formal. Kata-kata berilmu yang disampaikan fasilitator terasa nyata dan berenergi, seperti sedang duduk di bangku kelas karena terbayangkan sangat kuat dalam visual. Seperti orang yang kelaparan, kiranya setiap kali berakhir satu tema perkuliahan saat itu pula terasa mengenyangkan.
Bukan untuk mengakhiri, rasa cukup tentu saja hanya
sementara. Maka, selayaknya ilmu memang sudah seharusnya dipupuk dan diberi
makan secara berkala. Di Bengkel Diri ini, rasanya setiap kali merasa lapar
lagi terus saja dicukupkan dengan ilmunya yang sistematis dan mengerucut.
Detail dan bekesinambungan sehingga, beberapa jawaban yang mengganjal rasanya
kemudian terjawabkan dalam sesi tema berikutnya. Terlebih, kami sebagai siswa
diperbolehkan untuk bertanya pada sesi tertentu.
Saya memang bukan siswa yang selalu melemparkan pertanyaan
setiap kali sesi tema perkuliahan, maklum, saya seringkali kejar-kejaran
mendengarkan materi yang diberikan. Namun, ketika membaca dan mendengarkan sesi
tanya jawab yang dilontarkan oleh teman yang lain, rasanya semua pertanyaan dan
jawaban sangat mewakilkan. Bukan tidak pernah, saya pernah bertanya pada satu
materi dan dijawab jelas ringkas oleh fasilitator. Tak hanya sampai di situ,
saya diperbolehkan bertanya dan menjabarkan lebih detail pertanyaan saya
melalui jaringan pribadi. Alhamdulillah, pertanyaan saya terjawab sehingga saya
tau mengatasi kegundahan hati saya selama ini.
Kalau boleh dibilang, mengikuti perkuliahan di Bengkel Diri
ini seperti awal mula bagi saya membereskan diri sendiri. Tema perkuliahan yang
diberikan terasa relate dengan keadaan saya saat itu, kosong ilmu agama. Jauh dari
kata mengerti esensi hidup di dunia yang sebenarnya. Jauh dari kenyataan yang
jelas akan di bawa kemana hidup saya yang kosong dan sementara ini.
Pada selang beberapa minggu setelah melalui empat tema
perkuliahan, saya tergerak untuk berikhtiar. Pada materi hidayah dan dalalah
saya merasa takjub, sebegitu sayangnya Allah Swt. pada hambanya, karena sejatinya
Allah Swt. telah banyak membukakan jalan hidayah bagi hambanya. Sayang sebagian
banyak dari jalan yang telah dibukakan itu seringkali manusia lalai dan luput
karena tak menyadarinya.
Mengetahui kenyataan itu, saya merasa ingin kembali mencari
dan menyadari jalan-jalan yang telah dibukakan itu. Saya tidak ingin menjadi
manusia yang sia-sia, atau bahkan menjadi manusia yang tak lagi diberikan
petunjuk dan dipalingkannya hati dari kebenaran. Mungkin terdengar klise, namun
ketakutan inilah yang seharusnya ada dalam diri setiap manusia. Dan betapa
bersyukurnya saya masih diberi kesempatan oleh-Nya untuk bisa merasakan
ketakutan ini.
Setelah merasa takut itulah, akhirnya saya mencari tau
banyak hal yang menjadikan saya tak tuntas amanah sebagai manusia. Dengan
jujur, saya menuliskan satu per satu hal yang selama ini terlalaikan dalam
sebuah buku. Masyaallah banyak sekali, ada saja salah dan lalainya. Dari
sinilah langkah terbesar saya ambil. Berangkat dari saya mengetahui kekurangan
saya selama ini, betapa saya merasa diri saya diselimuti kekhawatiran yang
tinggi terhadap anak saya, betapa saya dibayang-bayangi kesempurnaan pada
berbagai aspek kehidupan saya, betapa saya menjadi penuntut yang nyata bagi
orang-orang di sekitar saya. Maka akhirnya saya memberanikan diri mendatangi
seorang ahli psikiatri.
Proses demi proses saya lalui, sejalan dengan terus
mengikuti perkuliahan di Bengkel Diri, sejalan dengan itu pula saya terus
melaksanakan proses medis dengan seorang psikiater. Kenyataan yang mengejutkan
memang harus saya peroleh, dengan
diagnosa Anxiety Disorder, OCPD dan terakhir baru diketahui bahwa saya nyatanya
adalah seorang Bipolar Disorder, maka saya
berserah diri sepenuhnya pada Allah Swt.
Yang sudah dengan baik hati membukakan jalan dan arah saya untuk bisa dengan
berani dan mawas diri mengetahui hal ini, berusaha memahami dan membereskan
diri dengan nyata dan yakin ini merupakan qadha yang telah Allah Swt. tetapkan
untuk saya.
Maka sebagai manusia, saya hanya bisa melakukan ikhtiar
terbaik, agar walau dengan kekurangan yang berbatas ini saya masih tetap bisa
menjalani peran sebagai Ibu dan Istri yang mereka (anak dan suami) idam-idamkan.
Yang dengan beberapa kekurangan yang saya punya, saya masih bisa membersamai
anak dan suami saya dengan baik menurut syariat. Pun saya sangat berterima
kasih kepada one and only, partner
terbaik saya di segala kondisi kehidupan saya selama 3 tahun ini yaitu suami
saya. Yang walau dengan kondisi yang rumit, beliau tetap menjadikan saya tautan
utama di hatinya. Menjadikan saya merasa berharga di fase-fase down
saya, sehingga ia-lah dan anak-anak yang menjadi alasan bagi saya tetap sadar
bahwa ada yang harus terus diperjuangkan, sampai akhir masa usia saya di dunia
ini. InsyaAllah.
Source Photo: 8photo via freepik

Komentar
Posting Komentar