karena selalu ada kata yang mewakili kita, antara kau yang syahdu dengan aku yang menaruh rindu, maka bukan kita yang kehabisan kata-kata. melainkan kata-kata yang justru senang hati menitipkan maknanya kepada kita tanpa diminta.
(pic by google) Dikaruniai anak kembar memang ngeri-ngeri bahagia. Kalau dibayangin mungkin alangkah bahagianya ya langsung punya anak dua dalam sekali melahirkan. Membayangkan mereka tumbuh besar bersama, bermain dan bersenda gurau berdua. Rasanya alangkah senang ketika bisa membelikan pakaian yang sama dan digunakan berbarengan, lucu dan imut memang. Kesenangan itu bukan tanpa hambatan loh. Meski kadang terlihat akur dan mampu bermain bersama-sama namun momen bertengkar bukan menjadi hal yang jarang terjadi. Menghadapi kedua anak kembar saya, rasanya ya itu ngeri tapi bahagia. Momen bahagia hingga senyum-senyum sendiri jadi hal yang diidam-idamkan tatkala melihat Arfa & Arfi sedang saling suap-suapan cemilan, atau ketika mereka mau bertukar mainan kesayangan. ...
Di instagram, yang memasang bukan hanya kau, ada juga kekalutan perasaan. mata-mata ada ribuan, berpasang-pasangan saling menanamkan. beberapa hanya cukup memata-matai tapi bukan maksud menjadi penyendiri. hanya saja ditengarai ada arti-arti tersembunyi, maka hati-hati, karena ini bukan tanpa arti. alih-alih tak sengaja menyimpan dengki pada kaki-kaki yang baru tadi diteliti. bahwa itu hanya iri yang tak penting diberi arti. disisi mati, ada yang sekali-kali menanti. mungkin hati. Jkt, Februari ‘16. -Chy
beberapa kali, sering mendengar kalimat “Lingkungan akan banyak berpengaruh bagi kepribadian seseorang” atau sering juga mendengar teriakan ibu-ibu pada anaknya “jangan main sama si A, anaknya nakal nanti kamu ikut-ikutan nakal”… atau sering juga menyadari bahwa ada beberapa teman, sahabat, sodara atau kenalan berubah yang tadinya gini jadi gitu, yang tadinya gitu jadi gini, yang tadinya putih jadi abu, yang tadinya abu jadi hitam…pun luar biasanya ada juga loh yang tadinya hitam berubah jadi putih. di bangku sekolah dasar dulu, waktu rambut masih pirang karena sinar matahari dan masih sering jajan gulali yang kata Ibu pakai pewarna baju, nggak pernah tuh mikirin resiko temenan sama si A atau si B. Dulu yang terpenting kita punya temen main engklek di lapangan sekolah atau main bola bekel dikelas. Se-simpel itu… dan sampai pada saat dimana waktu berjalan cepat tanpa kompromi, memaksa kita berganti warna seragam dari satu warna menjadi berwarna-warni maka beri...
Komentar
Posting Komentar